Postingan

BANK 2

Jari-jemariku mulai bergerak serentakan nada yang ku dengar di kedua telinga ku sengaja ku sumbatkan headset ini ditelinga ku agar hanya aku yang dapat mendengarkan lantunan suara-suara yang membuat ragaku damai meski banyak orang yang mengatakan nada-nada ini sangat bertentangan dengan kebiasaanku selama ini. Ya aku egois aku bahkan tak membiarkan orang lain mendengarkan ragaku yang bergejolak mengirup ketenangan batin. Boleh sajakah insan ini melantunkan syair-syair yang berdengung bergema lara di dada. Aku ya aku tak mungkin harus menyelesaikan satu lembar kertas ini dengan pikir khayalku saja karena untuk saat ini aku bersyukur masih di perbolehkan untuk berkhayal. Setelah mungkin dua minggu aku tidak berada di asal ku. Aku mulai merasakan dunia luar tapi bukan dunia liar, hidup dikota orang lain dengan tujuan menuju masa depan, merangkak perlahan dengan membiasakan diri untuk beradaptasi didaerah yang belum biasa aku terima, namun jika aku tolak aku akan lelah sendiri. Enak aja ...

v

Merekah merona seiring dengan waktu mungkin ada beberapa situasi yang akan mengecam salah satu atau keduanya dari kalimat yang terlintas dan terpikirkan dapat tergambar dalam benak, mungkin tak pernah menampakkannya dengan jells tapi yang pasti kian banyak manusia yang berasumsi demikian bahkan seseorang yang membayangkannya di benak enggan mengerti dua kalimat yang mampu memikat hati tersebut bahkan jika ada orang lain yang meminta untuk definisi yang arus digambarkan untuk dua kalimat yang tercantum itu. Mereka bisa saja tidak mampu memenuhi anggan sang penanya. Karna sesungguhnya sang penikmat bukan lah seorang yang dapat mendfinisikan nya dengan seuntaian kalimat yang ia susun dengan rencana dan hal seksama yang mampu menggambarkan perasaan, sebab menurutku penikmat adalah seorang yang mampu menyantap lahap semua hal yang telah di sajikan kepadanya. Mungkin dengan sedikit mengambil momen untuk mengabadikan nya. Tapi mungkin dapat ia anjungkan kepada orang lain karna segala hal ya...

BELUM BER-JUDUL

Jari-jemariku mulai bergerak serentakan nada yang ku dengar di kedua telinga ku sengaja ku sumbatkan headset ini ditelinga ku agar hanya aku yang dapat mendengarkan lantunan suara-suara yang membuat ragaku damai meski banyak orang yang mengatakan nada-nada ini sangat bertentangan dengan kebiasaanku selama ini. Ya aku egois aku bahkan tak membiarkan orang lain mendengarkan ragaku yang bergejolak mengirup ketenangan batin. Boleh sajakah insan ini melantunkan syair-syair yang berdengung bergema lara di dada. Aku ya aku tak mungkin harus menyelesaikan satu lembar kertas ini dengan pikir khayalku saja karena untuk saat ini aku bersyukur masih di perbolehkan untuk berkhayal. Setelah mungkin dua minggu aku tidak berada di asal ku. Aku mulai merasakan dunia luar tapi bukan dunia liar, hidup dikota orang lain dengan tujuan menuju masa depan, merangkak perlahan dengan membiasakan diri untuk beradaptasi didaerah yang belum bias aku terima, namun jika aku tolak aku akan lelah sendiri. Enak aja a...

MONOLOG

Menangis? Air mata? Tak bermanfaan lagi untuk sekarang. Ketika suatu hal yang salah terjadi dan berlanjut terjadi terus-menerus. Bolehkah aku berteriak mewakili semua perasaan, penderitaan, penggusuran   1 . Hal-hal yang memang aku dan orang-orang sepertiku yang mengalaminya. Ketika hal itu terjadi kami Diam? Tidak kami selalu angkat suara, suara kami sangat lah keran dan lantang. Tapi apa? Tidak satu hal pun mereka mendengarkannya, kami hanya diperintahkan untuk diam   2 . Diam bukanlah kemauan kami, mulut ini diciptakan untuk berbicara, mata ini diciptakan untuk melihat. Lalu apa? Dengan begitu saja kalian menginginkan kami untuk tetap diam?. Suatu strategi yang telah kalian rencanakan untuk membuat kami diam berhasil, peluru yang kalian tembakkan kepada rakyat jelata seperti kami mampu mengubah segalanya. Peluru yang kalian siapkan telah membius segala sesuatu, segala persoalan, segala masalah. Sehingga kalian berani untuk bertindak lebih lanjut hingga detik ini. Pembuat pe...

SENDIRI TANPA SEPI

SENDIRI TANPA SEPI karya : Euis Intan Muminatin Dibawah pohon, aku duduk seorang diri Sembari menulis cerita yang akan aku sampaikan pada waktunya Ditemani merdu suara angin bak berbisik di telinga ku Bersama dedaunan yang bergoyang dengan irama angin berhembus Aku percaya aku tidak sendirian karna aku mendengar suara burung yang ingin mengajakku berbincang Aku mungkin tak pandai menilai kata, tapi aku pandai menghargai indahnya suasana Disini aku dapat menulis, bercerita tentang hati yang sedang lelah Yang perlu mengistirahatkan raga yang terpaut ini Sejenak aku perhatikan disekelilingku Yang sedang memelukku Membuat nyaman akan kesendirianku Tak terasa sinarnya mulai menghangatkan ku Sinar matahari bak ingin menyapa ku Lewat renggangnya di pohon itu Akupun menyapanya dengan senyum yang membuat sang sinar senang Tak lupa dia mengajak awan bersamaan dengan langit yang elok di pandang Aku tau aku sedang sendiri bukan untuk hati yang sedang menanti Tapi aku se...

Hanya

suu.findlandia@gmail.com HANYA Tetes air hujan perlahan turun sebab aku merasakan air yang mulai berjatuhan dari langit. air titipan tuhan untuk menyadarkan ku akan senja pada hari itu, ketika aku terlelap dalam indahnya alam yang telah tuhan ciptakan untuk umat nya. Ditemani desiran ombak, angin yang membisik serta awan yang melindungi ku dari sinar matahari. Aku pun enggan beranjak dari tempatku meski rintik air hujan mulai memperingati akan berubah sebentar lagi. Bukan kesal karna di bangun kan ketika sedang indah bermimpi, tapi malah bahagia dan menyadar kan ku bahwa aku tidak boleh melewatkan waktu ketika matahari ingin bersembunyi dan berganti bulan yang menjadikan bulan sebagai cahaya untuk menemani ku di malam hari. aku enggan beranjak pergi dari tempat yang aku berada sekarang karna aku benar-benar sedang menikmati semua hal yang menyenangkan untuk saat ini. Bulan dengan malu-malu muncul di hadapan ku dengan begitu aku  persilahkan sembari aku beranjak dari tempat...