MONOLOG
Menangis? Air mata? Tak bermanfaan lagi untuk sekarang. Ketika suatu hal yang salah terjadi dan berlanjut terjadi terus-menerus. Bolehkah aku berteriak mewakili semua perasaan, penderitaan, penggusuran 1. Hal-hal yang memang aku dan orang-orang sepertiku yang mengalaminya. Ketika hal itu terjadi kami Diam? Tidak kami selalu angkat suara, suara kami sangat lah keran dan lantang. Tapi apa? Tidak satu hal pun mereka mendengarkannya, kami hanya diperintahkan untuk diam 2. Diam bukanlah kemauan kami, mulut ini diciptakan untuk berbicara, mata ini diciptakan untuk melihat. Lalu apa? Dengan begitu saja kalian menginginkan kami untuk tetap diam?. Suatu strategi yang telah kalian rencanakan untuk membuat kami diam berhasil, peluru yang kalian tembakkan kepada rakyat jelata seperti kami mampu mengubah segalanya. Peluru yang kalian siapkan telah membius segala sesuatu, segala persoalan, segala masalah. Sehingga kalian berani untuk bertindak lebih lanjut hingga detik ini. Pembuat peluru itu tak pernah merasa salah. Mereka telah di kerangkeng, tapi apakah mereka telah menyudahi strategi yang mereka bangun? Tentu tidak. Kepercayaan orang-orang yang diberikan kepada mereka, hanya lah angin hembusan yang cepat berlalu dan terhiraukan. Aku hanya ingin bertanya? Apakah ada yang ingin menyudahi semua strategi busuk memakan jiwa ini? Kalo ada aku yang pertama unjuk tangan untuk membantunya. Tapi semua ini tidak mudah, ia juga manusia yang memiliki sifat khilaf, dan sifat itu bisa berlanjut kemudian hari dan itu terjadi turun-temurun. Wahai kalian! Biarkan lah kami hidup dengan layak, bantulah kami yang tak ingin terbunuh karna peluru yang munafik itu. Hentikan semua sandiwara yang kalian berikan kepada kami, cukup, aku hanya ingin menyampaikan, segala sesuatu yang kau buat di alam fana ini akan ada pembalasannya di alam setelah ini.
by: euisintan
Komentar
Posting Komentar