Hanya

suu.findlandia@gmail.com
HANYA

Tetes air hujan perlahan turun sebab aku merasakan air yang mulai berjatuhan dari langit. air titipan tuhan untuk menyadarkan ku akan senja pada hari itu, ketika aku terlelap dalam indahnya alam yang telah tuhan ciptakan untuk umat nya. Ditemani desiran ombak, angin yang membisik serta awan yang melindungi ku dari sinar matahari. Aku pun enggan beranjak dari tempatku meski rintik air hujan mulai memperingati akan berubah sebentar lagi. Bukan kesal karna di bangun kan ketika sedang indah bermimpi, tapi malah bahagia dan menyadar kan ku bahwa aku tidak boleh melewatkan waktu ketika matahari ingin bersembunyi dan berganti bulan yang menjadikan bulan sebagai cahaya untuk menemani ku di malam hari. aku enggan beranjak pergi dari tempat yang aku berada sekarang karna aku benar-benar sedang menikmati semua hal yang menyenangkan untuk saat ini.

Bulan dengan malu-malu muncul di hadapan ku dengan begitu aku  persilahkan sembari aku beranjak dari tempat ku untuk kembali ketempat peristirahatan sejenak ku. Aku berjalan masuk mengambil laptop dan secangkir kopi hangat yang telah aku buat sebagai teman malam ku. tak indah memang tapi itu menyenangkan bagiku, dan duduk di teras lantai 2. Aku tak menyangka ternyata angin masih ingin mengajak ku berbincang. ku buka laptop ku dan ku ceritakan semua tentang hati ku hari ini. Di suasana yang masih mengoren-jingga di langit hingga kencang nya angin yang terdengan nyaring mengalahkan suara bisikan orang lain yang bercengkrama. Ketika aku mulai berhenti menulis bulan sudah berani menunjukkan jati diri nya dengan sinar yang enggan membuat ku tertidur tak lupa bulan mengajak ribuan bintang yang sedari tadi mulai mencoba menggodaku untuk tetap menemani bintang dan bulan di malam ini walau bagi ku hanya bisa di lihat, di tatap namun mustahil di gapai tapi aku bersyukur dapat melihatnya.

Aku ingin namun indra yang telah di ciptakan tuhan untuk ku kian lelah dan hendak beristirahat, bersiap siap untuk besok menikmati ciptaan tuhan lainnya. kopi sang teman pun telah menipis entah angin yang meminumnya mungkin, tapi ini terasa sangat singkat bagiku lelahku. ku tutup laptop, ku hentikan cerita untuk hari ini. Dan menatap langit sejenak hendak nya ku berada lebih dekat dengan benda-benda langit itu, tapi tidak mungkin. aku menutup hari dengan malam, seraya beranjak ke kamarku sambil membawa cangkir tanpa kopi yang dari tadi menemaniku dan aku kembali ketempat tidur ku percaya lah ku biarkan tirai di kamarku terbuka, membiarkan bulan dan bintang sebagai penerang di dalam mimpiku yang memang hanya bisa aku lihat.

Komentar